OASE JUMAT (1)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

PERJALANAN panjang selama sebulan penuh di bulan Ramadan hingga berakhirnya Syawal, telah meninggalkan jejak kelelahan fisik bagi sebagian kita.

Namun, di balik itu, ada sebuah energi spiritual yang sejatinya masih menyala. Sebab, selama 60 hari kita telah mereguk “Petikan Hikmah” setiap hari.

Kini di saat kita telah menjauh dari Ramadan dan baru saja berpisah dengan Syawal, tentu kita tidak ingin cahaya Ramadan dan Syawal akan meredup seiring kembalinya kita ke rutinitas yang padat.

Cahaya itu perlu terus dirawat sehingga menjadi penerang dalam perjalanan kita sampai pada Ramadan yang akan datang.

Salah satu ikhtiar untuk merawat cahaya itu adalah melalui Oase Jumat. Kolom ini hadir bukan untuk menambah beban pikiran Anda dengan teori-teori yang rumit, melainkan untuk mengajak kita sejenak berhenti, menghela napas, dan membasuh dahaga jiwa di tengah gersangnya kesibukan duniawi.

Dan, untuk memulai perjalanan ini, tidak ada titik tolak yang lebih tepat selain kembali ke muara segala perbuatan, yaitu hati.

Segala sesuatu sejatinya selalu dimulai dari niat yang kuat, tulus, dan ikhlas. Dalam kaitan ini, Rasulullah Saw., dalam sebuah hadis masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, bersabda:

“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”

Memulai dari Hati

Hati adalah kemudi. Jika kemudinya lurus, maka perjalanan hidup kita —baik sebagai akademisi, praktisi hukum, maupun orang tua— akan sampai pada dermaga keberkahan.

Dikisahkan, seorang ulama besar yang selalu berhenti sejenak sebelum menulis atau berbicara. Ketika ditanya mengapa ia melakukannya, ia menjawab, “Aku sedang menata niatku agar apa yang keluar bukan sekadar kata-kata yang memukau telinga, melainkan cahaya yang mampu menembus hati.”

Inilah esensi dari “memulai dari hati”. Seringkali kita terlalu sibuk memoles apa yang tampak di luar —pencapaian karier, status sosial, atau tumpukan gelar— namun lupa membeningkan apa yang ada di dalam.

Padahal, Al-Qur’an telah mengingatkan kita dalam Surah Asy-Syu’ara ayat 88-89:

“(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (qalbun salim).”

Hati yang bersih adalah hati yang merdeka. Ia tidak didikte oleh pujian manusia dan tidak ciut karena cercaan. Ia bekerja karena pengabdian, dan ia menulis karena kerinduan akan kebenaran.

Memulai dari hati berarti menyadari bahwa setiap Jumat bukan sekadar akhir pekan, melainkan waktu untuk re-charging.

Di kolom Oase Jumat ini, kita akan mencoba melihat masalah kehidupan, misalnya soal keadilan, etika, maupun sosial, bukan dengan kacamata yang sinis, melainkan dengan hati yang jernih.

Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing, “untuk apa aku memulai hari ini?” Jika kita memulainya karena Allah dan demi kemaslahatan sesama, maka setiap peluh akan menjadi pahala, dan setiap kata akan menjadi doa.

Mari melangkah dengan tenang, memulai dengan hati, dan membiarkan cahaya-Nya menuntun kita menemukan oase di tengah padang pasir kehidupan. Wallahu a’lam.[*]