
Oleh: Saharuddin, SH (ketua BHPP Demokrat Gowa)
SEJARAH akan mencatat bahwa pada Januari 2026, kita menyaksikan sebuah drama komedi intelektual yang menyedihkan.
Seorang yang mengaku akademisi, Ade Armando, melalui jumpa persnya pada 5 Januari lalu, melempar narasi yang lebih mirip dongeng pengantar tidur daripada analisis politik: menuduh Partai Demokrat dan Bapak SBY sebagai sutradara di balik isu ijazah palsu Jokowi.
Puncak dari “lawakan” ini adalah klaim Armando yang menyebut bahwa langkah hukum somasi Bapak SBY justru “memperkuat dugaan” keterlibatan. Ini adalah sebuah akrobat logika yang sangat berbahaya bagi kesehatan demokrasi kita.
Secara kritis, kita harus bertanya: sejak kapan di negeri hukum ini, warga negara yang menggunakan hak konstitusionalnya untuk melaporkan fitnah malah dijadikan indikator kesalahan?
Jika logika sungsang Armando ini diamini, maka kita sedang menuju era kegelapan intelektual di mana “siapapun yang membela diri dari fitnah otomatis dianggap tersangka”.
Ini bukan sekadar sesat pikir (logical fallacy), melainkan upaya sistematis untuk membungkam setiap perlawanan hukum terhadap hoaks.
Tuduhan bahwa Demokrat adalah backing di balik gerakan Roy Suryo hanyalah narasi “daur ulang” yang dipaksakan sebagai strategi scapegoating (pengkambinghitaman) untuk mengalihkan perhatian publik dengan cara membenturkan tokoh bangsa.
Sebagai kader di daerah, kami melihat manuver ini sebagai upaya pengecut untuk mendegradasi kehormatan Bapak SBY.
Kami menantang Armando: hentikan ocehan di depan kamera dan serahkan bukti konkret kepada penyidik Polda Metro Jaya jika memang ada, jangan hanya menjadi pengecut yang berlindung di balik podium untuk menyebarkan “sampah” informasi.
Laporan polisi yang dilayangkan DPP Demokrat pada 6 Januari 2026 adalah bukti nyata bahwa kami tidak bermain di ruang gelap fitnah, melainkan di terang benderangnya meja hukum.
Pada akhirnya, rakyat tidak butuh provokator berbaju intelektual, melainkan kebenaran yang substantif.
Narasi Armando yang serampangan ini justru menjadi bumerang yang memperlihatkan kepada publik siapa sebenarnya pihak yang sedang panik dan kehilangan akal sehat di tahun 2026 ini.
Kami, kader di Gowa, berdiri tegak menyatakan bahwa fitnah murahan ini tidak akan pernah melukai marwah Partai Demokrat; justru semakin anda bicara tanpa bukti, semakin publik melihat betapa dangkal dan runtuhnya kualitas intelektual yang selama ini anda banggakan.
Gowa, 10 Januari 2026




Tinggalkan Balasan