
By. Rahmat Mustafa
Kreatif sering disalahpahami sebagai bakat langka yang hanya dimiliki seniman, penulis, atau mereka yang bekerja di dunia seni.
Padahal, kreatif adalah kemampuan manusia paling dasar yaitu keberanian untuk melihat sesuatu dengan cara yang sedikit berbeda dari kebiasaan.
Kreatif lahir bukan hanya dari kecerdasan, juga dari kepekaan dan kemauan untuk bertanya, โApakah selalu harus begini?โ
Dalam kehidupan sehari-hari, kreatif justru muncul dari hal-hal sederhana. Seorang ibu yang menemukan cara baru agar anaknya mau makan sayur.
Atau, seorang petani yang menyesuaikan pola tanam dengan perubahan cuaca.
Bisa juga seorang guru yang mengubah metode mengajar agar murid tidak bosan.
Tidak ada panggung besar di sana, tetapi ada keberanian untuk tidak menyerah pada rutinitas.
Kreatif juga tumbuh dari kegelisahan. Ketika sesuatu tidak berjalan baik, pikiran dipaksa mencari jalan lain.
Di titik inilah kreativitas bekerja. Kreatif bukan selalu tentang ide brilian yang datang tiba-tiba, tapi proses mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.
Oh iya, bicara tentang kreatif, saya teringat anak muda kota Makassar era tahun 80 dan 90-an. Mereka adalah anak muda yang penuh dinamis.
Tak sekedar berkumpul, tetapi juga kreatif dengan membentuk nama perkumpulan.
Selain itu, membuat istilah-istilah yang hingga saat ini masih terus diperbincangkan.
Masing-masing dari mereka punya nama grup dan eksis satu sama lain.
Namanya anak muda, kadang ada sedikit benturan, sehingga percekcokan tak bisa dihindari.
Meski terjadi cekcok, tidak ada yang bermusuhan hingga berlarut-larut. Mereka itu cinta damai, dan cinta sama kota Makassar.
Seperti istilah Ninja yang berarti Nikobbi na, jallo na. Ada juga Antebas atau Anak tena bassoro’na. Lain lagi dengan Antanija, Anak tena nijampangngi.
Malah memakai istilah Adiba (Anak didikan Daeng Baso), Kordoba (Koro-koroang dompala balala).
Barbies (Barumbung habies), Artis (Anak rantasa’ tena siri’na), Gamussu (Gabungan muka-muka susah).
Lanjut. Galaktika (Gabungan laki-laki tinro kalengkeng). Perkuci (Perkumpulan kulantuk cidu’), Caknalis (Cakkaruddu na lisu).
Diantara semua istilah dan nama grup, ada yang paling kreatif dan fenomenal. Itu menurut saya ya, bukan menurut Cak Lontong yang lucu habis!
Nama perkumpulannya cukup panjang dan melekat di hati, yaitu: Rebadida Sujongjo Rogurami.
Artinya, Remaja baju di dalam, suka jongko-jongko, rokok gudang garam mini. Gedubarak! Ketawa sambil guling-guling.
Dalam konteks global, banyak juga contohnya. Hampir semua kreativitas besar di dunia tidak lahir dari rencana megah dan wah.
Tapi dari situasi biasa, bahkan sering kali dari kegagalan.
Google misalnya, berangkat dari keresahan sederhana, internet terlalu berantakan.
Dua mahasiswa Stanford, Larry Page dan Sergey Brin, hanya ingin tahu bagaimana menentukan halaman mana yang paling relevan.
Mereka tidak bermimpi membangun raksasa teknologi. Hanya ide kreatif memandang masalah lama dengan logika baru.
Lain lagi dengan Lego. Lahir dari keterbatasan ekonomi. Saat krisis, pembuat mainan kayu di Denmark kehabisan bahan dan beralih ke plastik.
Keputusannya dipandang aneh kala itu. Tapi dari balok kecil yang bisa disusun ulang itulah, Lego membuat imajinasi jutaan anak tumbuh lintas generasi.
Bagaimana dengan Netflix? Justru muncul dari rasa malu dan jengkel. Pendiri Netflix pernah didenda mahal karena telat mengembalikan DVD.
Dari pengalaman sepele itu, muncul pertanyaan kreatif: โBagaimana kalau orang menonton tanpa denda?โ
Sebuah pertanyaan kecil yang akhirnya mengguncang industri hiburan dunia.
Nah, ini yang menjadi fenomenal di era digital. Masalah “meme internet” yang kadang muncul dari kejenuhan.
Ketika bahasa resmi terasa kaku dan terlalu serius, manusia menciptakan cara bercanda bersama.
Gambar sederhana dan kalimat seadanya berubah menjadi alat komunikasi global. Kreatif karena jujur, lucu, dan apa adanya.
Terlepas dari itu semua, terkadang lingkungan sering kali kurang ramah pada kreativitas.
Kita terlalu cepat menertawakan ide yang aneh, terlalu gemar menuntut seragam.
Akibatnya, banyak orang memilih diam, menyimpan gagasan di kepala, karena takut dianggap berbeda.
Padahal, kemajuan selalu lahir dari mereka yang berani melawan arus, meski awalnya tampak janggal.
Menjadi kreatif bukan berarti harus selalu baru atau spektakuler.
Kadang cukup dengan memperbaiki yang sudah ada, memberi sentuhan kecil, atau melihat persoalan lama dengan sudut pandang segar.
Kreatif adalah soal sikap batin. Terbuka, tidak cepat puas, dan berani berpikir lebih jauh.
Kreativitas adalah bentuk kejujuran pada diri sendiri. Kejujuran untuk mengakui bahwa dunia bisa dibuat sedikit lebih baik, lebih manusiawi, kadang juga lucu-lucuan.
Ya, kreativitas kadang muncul bukan karena kita pintar, tetapi karena kita kepepet.
Saat ide buntu, deadline mendekat, dan kopi sudah dingin, otak tiba-tiba bekerja lebih rajin dari biasanya.
Di situlah kreativitas lahir, dari kepanikan kecil yang disamarkan sebagai inspirasi.
Maka jangan heran jika ide terbaik justru muncul saat mandi, menatap tembok, menjelang tidur, atau pura-pura sibuk padahal sedang melamun.
Kreatif memang aneh, tapi tanpanya, hidup ini mungkin terlalu lurus dan membosankan, betul tidak?
๐จ๐๐ ๐๐๐ฃ๐**







Tinggalkan Balasan