
Petikan Hikmah Ramadan (59)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
BAGI seorang mukmin, akhir dari sebuah ibadah bukanlah tanda untuk berhenti, melainkan awal dari tanggung jawab baru.
Ramadan telah berlalu, dan Syawal pun segera berganti, namun cita-cita menjadi Muslim yang paripurna (Insan Kamil) harus tetap menyala.
Menjadi Muslim paripurna tidak berarti kita harus menjadi sosok tanpa cela, melainkan menjadi pribadi yang terus berproses memperbaiki diri, menjaga konsistensi ketaatan, dan memastikan bahwa semangat “madrasah” tetap hidup dalam dada hingga kita dipertemukan kembali dengan Ramadan tahun depan.
Sebagai pengingat tujuan akhir kita, Allah Swt. berfirman:
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini menegaskan bahwa pengabdian tidak mengenal kata pensiun. Muslim paripurna adalah mereka yang menjadikan kesalehan sebagai gaya hidup, bukan sekadar identitas musiman.
Jika di bulan Ramadan kita bisa menahan diri dari yang halal (makan dan minum) demi ketaatan, maka di bulan-bulan lainnya kita harus lebih mampu menahan diri dari hal-hal yang syubhat apalagi yang haram. Inilah inti dari ketaqwaan yang sesungguhnya.
Integritas dan Kontinuitas
Rasulullah Saw., adalah teladan terbaik dalam menunjukkan bagaimana ketaatan harus dijaga sepanjang tahun. Beliau bersabda:
“Beritahukanlah kepadaku tentang Islam yang aku tidak akan menanyakannya kepada selainmu.” Rasulullah menjawab: “Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah’, kemudian istiqamahlah.” (HR. Muslim)
Istiqamah adalah kunci utama menuju predikat Muslim paripurna. Seorang Muslim yang paripurna akan membawa “aroma” Ramadan ke meja kerjanya melalui kejujuran.
Membawa “keheningan” i’tikaf ke dalam interaksi sosialnya melalui kesantunan lisan, dan membawa “kedermawanan” zakat ke dalam kehidupan ekonominya.
Ia tidak membelah kepribadiannya. Tidak hanya shaleh di masjid namun culas di pasar.
Dikisahkan, ada seorang saleh yang setiap malam, setelah Ramadan berlalu, selalu menyalakan lampu kecil di sudut rumahnya saat sepertiga malam tiba.
Ketika ditanya mengapa ia masih melakukan hal itu sementara orang lain sudah kembali lelap dalam tidur panjangnya. Ia menjawab: “Aku telah berjanji kepada Tuhanku saat malam-malam terakhir Ramadan bahwa aku tidak akan membiarkan api rindu ini padam.
Aku tidak ingin menjadi orang asing bagi-Nya sampai Ramadan tahun depan datang.”
Tekad inilah yang kita butuhkan. Muslim paripurna adalah mereka yang memiliki “perjanjian batin” dengan Allah untuk tidak kembali ke masa lalu yang kelam.
Ia memandang sebelas bulan ke depan sebagai medan pembuktian atas janji-janji yang ia bisikkan di malam-malam Lailatul Qadar.
Menjadi Muslim paripurna hingga Ramadan tahun depan adalah sebuah perjalanan maraton spiritual.
Kita membutuhkan nafas kesabaran yang panjang dan keteguhan hati yang kokoh. Jangan biarkan grafik iman kita terjun bebas seiring bergantinya bulan.
Mari kita jadikan setiap hari di luar Ramadan sebagai persiapan untuk menyambut Ramadan berikutnya.
Jika kita menjaga Allah di saat lapang dan di luar bulan suci, niscaya Allah akan menjaga kita di saat sempit dan saat ajal menjemput.
Semoga kita semua termasuk golongan hamba yang “lulus” dengan predikat taqwa yang sebenar-benarnya. Wallahu a’lam. [*]




Tinggalkan Balasan