Penulis: Rahmat Mustafa 

Kehadiran teknologi informasi menyerupai gelombang besar dan mendorong perubahan zaman yang sulit terbendung.

Dalam gelombang tersebut, kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) muncul dan merambah ke segala aspek kehidupan umat manusia.

Salah satunya adalah bidang tulis menulis dengan menawarkan kemudahan dan kecepatan.

Dalam hitungan detik, kata-kata tersusun secara sistematis tanpa jeda yang panjang. Seakan proses berpikir tidak lagi memerlukan waktu.

Padahal, menulis merupakan proses olah pikir yang lahir dari membaca, menganalisa, dan mengambil sikap.

Kecerdasan buatan ibarat cermin bening. Apa saja yang pernah ada, tanpa memilih, tanpa merasakan, langsung dipantulkan.

Ketika penulis terlalu lama bercermin di sana, ia tampil sebagai fatamorgana. Mulai meniru bayangannya sendiri, hingga lupa bagaimana wajah aslinya.

Parahnya lagi, fondasi menulis yang paling esensial yakni, orisinalitas dan tanggung jawab intelektual terhempas.

Memang betul, tulisan yang orisinil tidak selalu sempurna. Ia bisa canggung, emosional, bahkan bertentangan.

Tetapi justru di sanalah nilainya. Pembaca sering kali tidak hanya mencari informasi, melainkan kejujuran yang tampil apa adanya.

Sementara teks yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan, hanya menghitung kemungkinan kata berdasarkan data masa lalu. Bukan pengetahuan yang baru.

Tulisan mungkin tampak koheren dan sistematis. Tetapi kering tanpa makna dan kehilangan kedalaman, keunikan, serta keberanian.

Pada sisi lain, menampik kecerdasan buatan itu, bukanlah sikap yang bijaksana. Karena realitas zaman telah berubah.

Teknologi informasi ini bisa digunakan untuk menyederhanakan data, membantu riset awal, atau penyuntingan naskah.

Akar masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan bagaimana manusia menggunakannya.

Bahaya nyata terjadi ketika kecerdasan buatan berubah menjadi pengganti nalar. Di situlah kualitas dan martabat tulisan menjadi runtuh.

Jika ia dibiarkan mengambil alih kerja intelektual, maka yang tersisa bukanlah kemajuan literasi, melainkan hilangnya nalar.

Memang betul, manusia masih menulis atas namanya sendiri, tetapi pikirannya menjadi tumpul yang pada akhirnya mati terbujur kaku!

sekianG**

https://www.facebook.com/share/p/1DEubN3WFS/