
Petikan Hikmah Ramadhan (3)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
PERNAHKAH Anda merasa lelah, padahal Anda tidak sedang memikul beban fisik? Jika iya, berarti Anda mengalami kelelahan non fisik yang tak bisa disembuhkan hanya dengan tidur delapan jam atau liburan akhir pekan.
Itulah kelelahan jiwa yang mendera saat ekspektasi duniawi, ambisi yang tak kunjung usai, dan kebisingan media sosial mulai menggerogoti ketenangan batin.
Kabar baiknya, Ramadhan kini datang menyapa kita. Ia datang sebagai “stasiun pengisian daya” (recharge) bagi batin yang kering. Ia tidak datang untuk menambah beban dengan lapar dan haus. Ramadhan adalah surat cinta dari Sang Pencipta yang berbisik pelan:
“Berhentilah sejenak, kembalilah pulang ke pelukan-Ku.”
Dalam bulan suci Ramadhan, Allah Swt., memerintahkan kita untuk berpuasa. Tujuannya untuk membentuk pribadi-pribadi muslim yang bertaqwa, yang memiliki jiwa-jiwa yang tenang, jiwa-jiwa yang tulus, ikhlas, sabar dan peduli dengan sesamanya. Puasa diperintahkan untuk mendetoksifikasi ruhani kita.
Ketika tubuh melemah karena lapar, ego dan nafsu ikut mengecil, memberikan ruang bagi jiwa untuk kembali “bernapas”.
Saat berpuasa, kita terhubung dengan Allah Swt., secara intens. Di sanalah kita akan mendapatkan ketenangan bathin dan energi bagi jiwa-jiwa kita yang lelah.
Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt., berfirman, yang artinya:
“..Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)
Ramadhan, melalui ibadah puasa, kita dikondisikan untuk memutus atau sedikit menghindari kebisingan dunia, agar kita bisa mendengar kembali suara hati kita sendiri.
Rasulullah Saw., pun sering menjadikan ibadah sebagai tempat beristirahat. Beliau pernah berkata kepada Bilal bin Rabah ra:
“Wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Makna istirahat dalam hadis di atas bukan berarti berhenti bergerak. Istrahat di sini adalah memutus kesibukan duniawi dan kembali terhubung dengan sumber ketenangan, yaitu Allah Swt. Itulah istirahat sejati, istrahat yang betul-betul memberi ketenangan jiwa.
Keteduhan di Tengah Gurun
Dikisahkan, seorang sufi yang melihat seorang pekerja keras yang tampak sangat kuyu dan gelisah di bulan Ramadhan. Sufi itu bertanya, “Apa yang kau cari hingga kau tampak begitu lelah?” Si pekerja menjawab, “Aku mencari kehidupan yang lebih baik untuk keluargaku.”
Sufi itu tersenyum dan berkata, “Engkau sibuk menghidupi ragamu, tapi lupa memberi makan jiwamu. Lihatlah bulan ini, Allah menurunkan hidangan langit berupa ampunan. Jika engkau hanya mengejar kenyang di bumi, kau akan terus merasa lapar. Namun jika kau mengejar ridha-Nya, rasa lelahmu akan berubah menjadi lillah (karena Allah).”
Pekerja itu pun tersadar bahwa selama ini ia berpuasa secara fisik, namun pikirannya tetap terpenjara oleh kecemasan duniawi. Sejak hari itu, ia belajar meletakkan dunianya di tangan, bukan di hatinya.
Membasuh Lelah dengan Ampunan
Ramadhan tahun ini mungkin hadir menyapa kita di saat kita berada di titik terendah, di saat kita merasa gagal atau patah hati oleh keadaan.
Namun, percayalah bahwa setiap rakaat tarawih dan setiap butir kurma yang kita makan saat berbuka adalah cara Allah membasuh luka-luka dan menguatkan hati-hati kita yang lelah.
Jangan biarkan Ramadhan berlalu hanya sebagai rutinitas menahan lapar. Jadikan ia momen untuk merebahkan segala lelah di hadapan-Nya. Biarkan air mata taubat menyiram kekeringan di dalam dada. Karena pada akhirnya, jiwa yang lelah hanya butuh satu hal untuk kembali tegak, sentuhan rahmat dari Allah Swt. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan