
Petikan Hikmah Ramadhan (5)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
DI ANTARA sunyi yang menyelimuti ujung malam, ada satu waktu yang sering kali terlewatkan tanpa makna.
Mata masih berat, tubuh enggan beranjak, dan kesadaran belum sepenuhnya hadir. Padahal di situlah tersimpan keberkahan yang luar biasa, itulah waktu sahur.
Bagi sebagian orang, sahur hanya dipahami sebagai aktivitas makan di waktu sebelum fajar terbit, dengan maksud untuk berpuasa.
Bahkan tak jarang, ia sekadar formalitas, sekadar menggugurkan anjuran, bahkan terkadang ditinggalkan karena rasa malas atau kantuk yang lebih dominan.
Padahal, di balik sahur tersimpan nilai ibadah yang tidak sederhana.
Rasulullah Saw., bersabda:
“Bersahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menegaskan bahwa sahur bukan sekadar rutinitas fisik, melainkan ibadah yang mengandung limpahan berkah.
Memang keberkahan tidak selalu tampak dalam bentuk materi, tetapi keberkahan hadir berupa kekuatan menjalani puasa, kejernihan hati, serta kedekatan dengan Allah di waktu yang penuh keheningan.
Sahur juga mempertemukan seorang hamba dengan salah satu waktu paling istimewa dalam kehidupan, yaitu sepertiga malam terakhir. Saat di mana doa-doa diangkat, ampunan dibentangkan, dan rahmat Allah turun tanpa batas. Allah Swt., berfirman:
“Dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (QS. Adz-Dzariyat: 18)
Ayat ini memberikan isyarat bahwa sahur bukan hanya tentang makan, tetapi juga tentang istighfar, munajat, dan perenungan diri.
Di saat kebanyakan manusia terlelap, ada jiwa-jiwa yang bangun untuk menyapa Tuhannya, mengakui kelemahan, dan memohon ampunan.
Namun, di sinilah letak ironi itu. Banyak di antara kita yang bangun sahur, tetapi kehilangan ruh sahur itu sendiri. Waktu yang semestinya diisi dengan dzikir dan doa, justru habis dalam kesibukan yang serba tergesa. Sahur menjadi sekadar aktivitas biologis, bukan momentum spiritual.
Sahur adalah latihan kesadaran. Ia melatih kita untuk bangun melawan rasa malas, menundukkan keinginan untuk terus tidur, dan memilih untuk taat meskipun berat.
Dalam sahur, ada pelajaran tentang disiplin, keikhlasan, dan kesiapan menyambut ibadah sepanjang hari.
Sahur Bukan Rutinitas yang Membebani
Lebih dari itu, sahur juga mengajarkan makna syukur. Sepiring makanan sederhana di waktu sahur sering kali terasa lebih bermakna dibandingkan hidangan mewah di waktu lain.
Ia mengingatkan kita bahwa nikmat Allah tidak selalu diukur dari banyaknya, tetapi dari kesadaran hati dalam mensyukurinya.
Kini, ketika Ramadhan kembali hadir, sahur seharusnya tidak lagi dipandang sebagai rutinitas yang membebani, melainkan sebagai panggilan kasih sayang dari Allah. Panggilan untuk bangun, bukan hanya dari tidur, tetapi juga dari kelalaian.
Mari kita hidupkan sahur dengan hati. Kita isi dengan doa, istighfar, dan harapan. Kita jadikan ia sebagai awal dari hari yang penuh keberkahan, bukan sekadar pengantar menuju lapar dan dahaga.
Sebab, boleh jadi di antara sunyi sahur itu, Allah sedang menunggu kita untuk kembali kepada-Nya. Wallahu a’lam.[*]







Tinggalkan Balasan