
Petikan Hikmah Ramadhan (7)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
MALAM-malam Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Masjid-masjid yang sebelumnya lengang, kini dipenuhi oleh langkah kaki yang bergegas menuju cahaya. Ada yang datang dengan wajah lelah setelah seharian berpuasa, namun tetap melangkah dengan harapan, meraih ketenangan dan keberkahan dalam shalat tarawih.
Shalat tarawih bukan sekadar ibadah tambahan di bulan Ramadhan. Ia adalah ruang perjumpaan antara hamba dan Tuhannya di keheningan malam.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, tarawih menjadi jeda, tempat jiwa beristirahat dari kegelisahan dunia.
Rasulullah Saw., bersabda:
“Barangsiapa melaksanakan qiyam Ramadhan (shalat malam di bulan Ramadhan) karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa tarawih bukan hanya menghadirkan ketenangan, tetapi juga membuka pintu ampunan yang luas. Setiap rakaat yang ditegakkan dengan keikhlasan, setiap bacaan yang didengarkan dengan khusyuk, menjadi jalan penghapusan dosa dan peningkatan derajat di sisi Allah.
Tarawih dan Ketenangan Batin
Jika di siang hari, kita dipenuhi kesibukan, tekanan pekerjaan, dan berbagai persoalan hidup, maka malam Ramadhan menghadirkan ruang sunyi yang menenangkan.
Di dalam setiap gerakan shalat, ada pelepasan beban. Di dalam setiap sujud, ada pengakuan kelemahan. Dan, di dalam setiap doa, ada harapan yang dilangitkan.
Sayangnya, tidak sedikit yang menjalani tarawih hanya sebagai rutinitas. Gerakan dilakukan, bacaan didengar, tetapi hati tidak benar-benar hadir.
Bahkan, ada yang tergesa-gesa, seakan ingin segera selesai. Tarawih yang seharusnya menjadi momen menikmati kedekatan dengan Allah, justru berubah menjadi aktivitas ritual yang ingin cepat dituntaskan.
Di sisi lain, muncul pula fenomena “tarawih instan”, shalat yang begitu cepat, tanpa memberi ruang bagi hati untuk meresapi setiap ayat.
Padahal, esensi tarawih bukan pada kecepatan, tetapi pada kekhusyukan dan kehadiran jiwa. Rasulullah Saw., mencontohkan shalat malam dengan penuh ketenangan, bacaan yang tartil, dan penghayatan yang mendalam. Ini adalah pelajaran bahwa kualitas lebih utama daripada sekadar kuantitas.
Tarawih juga mengajarkan kebersamaan. Kita berdiri dalam satu saf, tanpa membedakan status, jabatan, atau latar belakang. Semua tunduk di hadapan Allah. Inilah gambaran kesetaraan yang sesungguhnya.
Di hadapan Allah Swt., semuanya sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaan.
Kini, ketika malam-malam Ramadhan kembali kita jalani, sejatinya kita hadirkan tarawih dengan hati yang utuh.
Biarkan setiap ayat yang dibaca menyentuh hati. Biarkan setiap sujud menjadi tempat mencurahkan segala kegelisahan.
Biarkan tarawih menjadi ruang untuk menemukan kembali ketenangan yang mungkin telah lama hilang.
Sebab boleh jadi, di antara rakaat-rakaat tarawih itu, Allah sedang menenangkan hati kita, mengangkat beban kita, dan mendekatkan kita kepada-Nya.
Karena itu, jangan sekadar menunaikan tarawih secara fisik. Tarawih harus menghadirkan hati dan meresapi kebersamaan dengan Sang Maha Pengasih dan Penyayang, Allah Swt. Karena di saat itulah, ketenangan batin bersemi. Wallahu a’lam.[*]







Tinggalkan Balasan