Petikan Hikmah Ramadhan (8)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

PUASA yang diperintahkan Allah di dalam bulan suci Ramadhan, bukan sekadar ritual menahan lapar dari subuh hingga maghrib. Ia adalah kurikulum “sekolah kemanusiaan” yang paling jujur.

Di sekolah ini, kita tidak hanya belajar teori tentang penderitaan, melainkan mempraktikkannya secara langsung.

Saat itulah, empati bukan lagi sekadar kata sifat, melainkan getaran rasa yang menghubungkan satu jiwa dengan jiwa lainnya.

Selama sebelas bulan dalam setahun, kita seringkali hanya melihat kemiskinan sebagai angka statistik atau sekadar pemandangan lewat di jendela mobil. Kita tahu ada orang lapar, tapi kita tidak merasakannya.

Namun, ketika fajar menyingsing di bulan Ramadhan, tiba-tiba status sosial kita melebur. Si kaya dan si miskin merasakan perih yang sama di lambung yang kosong.

Si kaya merasakan perih di lambung yang kosong karena berpuasa sementara si miskin merasakan perih di lambung yang kosong karena tidak punya makanan untuk di makan.

Puasa adalah cara Allah mencabut sejenak fasilitas kenyamanan kita agar kita mampu melihat mereka yang hidup tanpa fasilitas tersebut selamanya.

Hikmah utama dari rasa lapar ini adalah agar muncul rasa kasih sayang (rahmah) yang tulus.

Melalui puasa, Allah ingin kita menjadi pribadi-pribadi yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah Swt., di dalam Al-Qur’an, yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibakan atas orang-orang sbelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah : 183).

Salah satu ciri orang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan hartanya dalam keadaan lapang maupun sempit.

Takwa tidak akan sempurna jika kita menutup mata dari penderitaan sesama. Rasulullah Saw., adalah teladan terbaik dalam sekolah empati ini.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra:

“Rasulullah Saw., adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan…” (HR. Bukhari)

Kedermawanan beliau di bulan Ramadhan digambarkan seperti angin yang berhembus, begitu cepat, menyentuh siapa saja, dan memberi kesejukan bagi yang membutuhkan.
Rahasia di Balik Wajah Pucat Sang Khalifah

Dikisahkan tentang Khalifah Umar bin Khattab ra. saat terjadi tahun kekeringan dan kelaparan (Tahun Ramadah). Beliau bersumpah tidak akan mencicipi minyak samin, daging, atau susu selama rakyatnya masih kelaparan.

Kulit beliau yang tadinya segar menjadi gelap dan pucat karena hanya mengonsumsi minyak zaitun dan cuka.

Ketika perut sang Khalifah berbunyi karena lapar, beliau memukul perutnya sendiri sambil berkata: “Berbunyilah sesukamu, wahai perut! Demi Allah, kau tidak akan merasakan kenyang sampai anak-anak kaum muslimin merasa kenyang.”

Umar bin Khattab tidak memimpin dari atas menara gading. Beliau masuk ke sekolah empati yang sama dengan rakyatnya. Baginya, rasa lapar adalah jembatan untuk memahami tangisan bayi-bayi di tenda pengungsian.

Inilah esensi puasa yang sesungguhnya, merasakan perihnya orang lain agar kita tak lagi egois dalam kenikmatan.

Mari jadikan setiap detik rasa haus kita sebagai pengingat akan mereka yang kesulitan air bersih. Jadikan perihnya lambung kita sebagai pemantik tangan untuk lebih ringan memberi.

Karena sejatinya, tujuan akhir dari sekolah Ramadhan bukan hanya membuat kita menjadi orang yang rajin shalat, tapi menjadi manusia yang memiliki hati paling lembut terhadap sesama.

Selamat belajar di sekolah empati. Semoga kita keluar sebagai pemenang yang penuh kasih. Wallahu a’lam.[*]