
Petikan Hikmah Ramadhan (9)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
PUASA yang diperintahkan Allah Swt., di dalam bulan suci Ramadhan, bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Ia adalah kurikulum “sekolah kemanusiaan” yang paling jujur.
Di sekolah ini, kita tidak hanya belajar teori tetapi sekaligus praktek merasakan bagaimana menderitanya orang-orang miskin yang sehari-hari kelaparan karena ketiadaan makanan.
Dari situlah sejatinya timbul rasa empati yang mendalam sekaligus tekad untuk mengulurkan tangan membantu sesama.
Kini kita berada di bulan Ramadhan. Kita kembali dilatih untuk memiliki sikap dan kepribadian yang berbeda dengan sebelum kita memasuki gerbang Ramadhan, termasuk sifat-sifat kedermawanan dan empati kepada sesama.
Pertanyaannya, apakah kita nantinya setelah keluar dari Ramadhan kita menjadi sosok yang benar-benar baru, atau sekadar sosok lama yang baru saja selesai “diet” sebulan penuh?
Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Di antara umat Islam, ada yang berpuasa layaknya Gajah. Ia menahan lapar hanya sementara, namun sifat, bentuk, dan perilakunya tetap sama sebelum dan sesudah berpuasa.
Ada pula yang berpuasa layaknya Ulat. Ia tahu dirinya penuh kekurangan, maka ia memilih berhenti makan (puasa), mengurung diri dalam kesunyian, dan keluar dengan wujud yang sepenuhnya baru, seekor kupu-kupu yang indah.
Dari ilustrasi ini, kita berada di posisi mana, Gajah atau Ulat?
Sejatinya kita berpuasa seperti Ulat, karena kita ingin setelah keluar dari Ramadhan dan telah menunaikan kewajiban berpuasa, maka kita menjadi pribadi-pribadi yang “baru”, pribadi yang berbeda dengan sebelum Ramadhan.
Yaitu pribadi yang bertakwa sebagaimana tujuan utama Puasa yang disebut di dalam QS. Al-Baqarah ayat 183.
Bermetamorfosis Menuju Takwa
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga tingkatan, yaitu, puasa orang awam, puasa khawas, dan puasa khawasul khawas.
Puasa “Gajah” adalah simbol puasa awam. Gajah mungkin berhenti makan, tapi ia tetaplah gajah yang besar dan tetap membawa sifat aslinya. Tidak ada perubahan yang berarti.
Sementara puasa “Ulat” adalah simbol transformasi total. Ulat menanggalkan rakusnya, mengisolasi diri dari gangguan dunia, untuk membangun struktur jiwa yang lebih mulia.
Allah Swt., mengingatkan bahwa tujuan akhir puasa bukanlah perut kosong, melainkan perubahan status menjadi hamba yang bertakwa:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Rasulullah Saw., juga memberikan peringatan keras bagi mereka yang puasanya hanya “puasa fisik” tanpa perubahan perilaku:
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. An-Nasa’i)
Rahasia di Balik Benang Sutra
Seekor ulat sering kali dianggap menjijikkan, rakus, dan merusak tanaman. Namun, pada satu titik, ia menyadari bahwa hidupnya tak bisa selamanya merangkak di tanah.
Ia pun mulai berpuasa. Ia membalut dirinya dalam benang sutra, berhenti mengonsumsi dunia, dan fokus pada perubahan di dalam.
Di dalam kesunyian kepompong itu, terjadi proses penghancuran ego. Sifat ulat yang rakus hilang dan digantikan oleh sayap-sayap iman yang kuat.
Ketika waktunya tiba, ia keluar bukan lagi sebagai ulat yang merusak, melainkan kupu-kupu yang hanya hinggap di tempat yang bersih (bunga) dan memberikan keindahan bagi siapa pun yang melihatnya.
Kisah ini adalah cermin bagi kita. Jika kita masuk Ramadhan dengan sifat pemarah, pelit, dan lisan yang tajam, lalu keluar dengan sifat yang sama, maka kita gagal bermetamorfosis. Kita hanya gajah yang sedang lapar, bukan ulat yang sedang berubah menjadi kupu-kupu.
Puasa Ulat menuntut kita untuk berani menghancurkan kebiasaan buruk selama ini. Memang terasa menyesakkan dan melelahkan, namun itulah satu-satunya jalan menuju keindahan iman.
Mari kita evaluasi kembali puasa kita. Apakah kita hanya sekadar memindahkan jam makan, atau sedang merajut sayap-sayap baru untuk terbang lebih dekat kepada-Nya?
Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa meninggalkan perubahan pada akhlak. Karena kemenangan sejati bukanlah baju yang baru, melainkan jiwa yang baru. Wallahu a’lam.[*]







Tinggalkan Balasan