Petikan Hikmah Ramadan (55)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

BANYAK di antara kita yang merasakan perubahan ritme ibadah setelah Ramadan berlalu.

Saat masih dalam bulan Ramadan, banyak amal ibadah begitu mudah dilakukan, misalnya, membaca Al-Qur’an setiap hari, bangun di sepertiga malam, atau bersedekah kepada sesama, kini mulai terasa berat.

Semangat yang dulu membara, perlahan meredup. Di sinilah kita dihadapkan pada satu pertanyaan penting, apakah ibadah kita selama ini hanya bergantung pada suasana, atau benar-benar tumbuh dari kesadaran yang mendalam?

Jawabnya ada pada diri kita masing-masing.

Islam tidak menuntut kita menjadi sempurna dalam sekejap. Ia justru mengajarkan keberlanjutan.

Rasulullah Saw., memberikan prinsip yang sangat mendasar dalam beramal. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus, meskipun sedikit.

Hadis ini bukan sekadar anjuran, melainkan fondasi dalam membangun kualitas keimanan yang kokoh.

Seringkali kita terpesona dengan amal-amal besar. Kita ingin melakukan banyak hal sekaligus, misalnya, khatam Al-Qur’an dalam waktu singkat, shalat malam berjam-jam, atau bersedekah dalam jumlah besar.

Namun sayangnya, semangat yang tidak diiringi dengan perencanaan dan ketahanan sering berujung pada kelelahan.

Akhirnya, amal besar itu berhenti di tengah jalan, meninggalkan jeda yang panjang dalam perjalanan spiritual kita.

Sebaliknya, amal kecil yang dijaga, konsisten, justru memiliki kekuatan yang luar biasa.

Ia mungkin tampak sederhana, membaca beberapa ayat setiap hari, menjaga shalat sunnah dua rakaat sebelum Subuh, atau menyisihkan sedikit rezeki untuk bersedekah.

Namun karena dilakukan secara konsisten, ia membentuk kebiasaan, mengakar dalam diri, dan perlahan mengubah karakter.

Konsistensi Bukti Kejujuran Iman

Dalam perspektif yang lebih dalam, konsistensi adalah bukti kejujuran iman. Ia menunjukkan bahwa hubungan kita dengan Allah tidak bersifat musiman, tetapi berkelanjutan.

Amal yang terus dijaga, walaupun kecil, mencerminkan hati yang hidup. Hati yang selalu ingin dekat dengan Rabb-nya dalam setiap keadaan.

Lebih dari itu, amal kecil yang konsisten juga melatih keikhlasan. Ketika sesuatu dilakukan terus-menerus tanpa sorotan, tanpa apresiasi, dan bahkan tanpa disadari orang lain, maka yang tersisa hanyalah niat yang murni.

Inilah kualitas amal yang tinggi di sisi Allah. Amal yang tidak tercampuri oleh keinginan untuk dilihat atau dipuji.

Syawal adalah fase pembuktian. Ia menguji apakah kita mampu menjaga bara Ramadan dalam bentuk yang lebih sederhana namun berkelanjutan.

Tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang besar jika itu hanya bertahan sesaat. Lebih baik memilih amal yang ringan namun bisa dijaga sepanjang waktu.

Mari kita mulai dari yang kecil. Tetapkan satu atau dua amalan yang realistis untuk dilakukan setiap hari.

Kita jaga dengan penuh kesungguhan, meskipun terasa biasa. Karena dalam pandangan Allah, yang kecil namun terus hidup, jauh lebih bernilai daripada yang besar namun terhenti.

Perjalanan menuju Allah bukanlah tentang seberapa cepat kita berlari, tetapi tentang seberapa konsisten kita melangkah.

Dan, seringkali langkah kecil yang tidak pernah berhenti justru mengantarkan kita lebih jauh dan lebih cepat menggapai Ridho dan Rahmat Allah Swt., tanpa kita sadari. Wallahu a’lam. [*]