
Awalnya, pertemuan itu terasa biasa saja.
Tidak ada kesan ingin tampil hebat.
Tidak ada sikap mencari perhatian.
Suardi Tahir tampak sederhana sekali.
Obrolan pertama berlangsung cukup panjang malam.
Kami bertukar cerita soal organisasi.
Soal wartawan. Soal pengalaman lapangan.
Rasa biasa perlahan mulai memudar.
Beliau ternyata nyaman diajak berdiskusi lama.
Pembawaannya cair. Tidak kaku sama sekali.
Candanya ringan namun tetap terukur.
Orangnya mudah membuat suasana hidup.
Saya beberapa kali bertemu beliau kembali.
Empat kali kami bertukar banyak pikiran.
Tema pembicaraan hampir selalu sama.
Tentang masa depan PWI Sulsel.
Suardi Tahir memiliki pandangan cukup sederhana.
PWI harus menjadi rumah besar wartawan.
Rumah bertumbuh bagi banyak generasi.
Bukan sekadar tempat berkumpul seremonial.
Ia juga sering membahas perubahan teknologi.
Dunia media bergerak sangat cepat sekarang.
Organisasi wartawan tidak boleh tertinggal jauh.
Adaptif menjadi kebutuhan cukup penting.
Pandangan itu terasa masuk dalam pikiran.
Saya pun memiliki keresahan serupa.
Saya kader PWI biasa.
Namun proses pengaderan belum benar-benar terasa.
Saya ingin dibentuk menjadi wartawan sesungguhnya.
Belajar langsung melalui proses lapangan panjang.
Bukan sekadar memiliki kartu anggota.
Atau hadir dalam kegiatan formalitas.
Suardi Tahir terlihat memahami kegelisahan itu.
Beliau mendengar tanpa memotong pembicaraan panjang.
Sikap seperti itu mulai jarang.
Terutama dalam lingkungan organisasi besar.
Lingkaran elit tidak mengubah pembawaannya.
Beliau tetap sederhana kepada siapa saja.
Tidak membedakan wartawan muda ataupun senior.
Semua diajak duduk dalam ruang sama.
Kerendahan hati begitu terasa selama berbincang.
Tidak ada kesan menjaga jarak.
Tidak ada bahasa penuh kepentingan.
Beliau lebih banyak mendengar cerita.
Saya melihat sosok cukup pas memimpin.
Tenang namun tetap memiliki komitmen kuat.
Terbuka menerima banyak pandangan berbeda.
Serta tetap mengayomi tanpa banyak bicara.
Mungkin sebab itu obrolan terasa nyambung.
Ada harapan sama-sama ingin dijaga.
Tentang marwah profesi tetap berdiri.
Tentang PWI kembali menjadi rumah bersama.
Oleh : Pen Palallo di Gowa 14/05/26




Tinggalkan Balasan