Petikan Hikmah Ramadan (12)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

DALAM kehidupan sehari-hari, kita kadang-kadang melihat fenomena paradox. Tidak jarang kita melihat seseorang yang begitu khusyuk bersujud di shaf terdepan masjid, namun saat di kantor, ia menjadi atasan yang zalim atau rekan kerja yang gemar menjatuhkan.

Atau, seseorang yang lisan dan dahinya akrab dengan sajadah, tetapi di pasar ia tak segan mengurangi timbangan atau memanipulasi harga.

Inilah fenomena “kesalehan yang terbelah”. Kita seringkali memenjarakan Tuhan hanya di dalam rumah ibadah, seolah-olah Allah tidak mengawasi saat kita sedang menandatangani kontrak kerja atau bertransaksi dagang. Padahal, Islam yang kaffah (menyeluruh) tidak mengenal dikotomi antara ibadah ritual dan muamalah sosial.

Menjadi Muslim di Setiap Jengkal Bumi

Berislam secara kaffah berarti membawa “atmosfer masjid” —kejujuran, ketundukan, dan rasa diawasi Allah— ke dalam setiap aktivitas duniawi. Masjid adalah tempat latihan, sedangkan pasar dan kantor adalah medan ujian yang sesungguhnya.
Di dalam Al-Qur’an Allah Swt., berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan…” (QS. Al-Baqarah: 208)

Rasulullah SAW juga menekankan bahwa agama bukan hanya soal ruku’ dan sujud, melainkan soal bagaimana kita memperlakukan sesama. Beliau bersabda:

“Agama adalah nasihat (ketulusan/perlakuan baik).” (HR. Muslim)

Dan di dalam hadis lain beliau bersabda:

“Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi)

Shalat kita seharusnya menjadi “bahan bakar” integritas kita di tempat kerja. Jika shalat tidak mencegah kita dari kecurangan di pasar, maka pasti ada yang perlu diperbaiki dari khusyuknya shalat kita. Sebab, Allah Swt., secara tegas menyatakan bahwa:

“Sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan munkar”. (QS. Al-‘Ankabut : 45).

Sejatinya, shalat yang dilakukan dengan khusyuk dan benar berfungsi sebagai benteng jiwa, mendidik diri untuk menghindari perbuatan menyimpang dan dosa, serta menumbuhkan rasa malu kepada Allah Swt.

Rahasia Dagang Sang Imam

Dikisahkan, Imam Abu Hanifah, seorang ulama besar yang juga pedagang kain yang sukses.

Suatu hari, ia meninggalkan tokonya dan menitipkan penjualan kepada karyawannya. Ia berpesan bahwa ada satu potong kain yang cacat, dan jika dijual, cacatnya harus ditunjukkan kepada pembeli.

Namun, karyawan tersebut lupa dan menjual kain itu dengan harga normal tanpa memberi tahu cacatnya.

Saat Abu Hanifah kembali dan mengetahui hal itu, ia sangat terpukul. Ia tidak meratapi hilangnya kain, tapi ia meratapi hilangnya keberkahan.

Tanpa ragu, beliau menyedekahkan seluruh hasil penjualan hari itu —bukan hanya keuntungan dari kain cacat tersebut— karena beliau takut ada harta yang tidak halal masuk ke dalam darahnya.

Imam Abu Hanifah membawa “akhlak masjid” ke dalam tokonya. Beliau sadar bahwa Allah yang ia sembah di dalam mihrab adalah Allah yang sama yang mengawasi aktivitasnya di pasar.
Masjid Sebagai Madrasah, Dunia Sebagai Panggung

Ramadan mendidik kita untuk disiplin. Jika kita bisa disiplin pada waktu berbuka, mengapa kita tidak bisa disiplin pada waktu masuk kantor?

Jika kita bisa jujur tidak makan saat sendirian, mengapa kita tidak bisa jujur saat mengelola anggaran yang tak terlihat orang?

Menjadi muslim yang kaffah adalah tentang konsistensi. Jangan biarkan kesalehan kita tertinggal di rak sandal masjid. Bawalah ia ke pasar dalam bentuk kejujuran, bawalah ia ke kantor dalam bentuk kerja keras dan tanggung jawab.

Karena, sejatinya setiap jengkal bumi adalah masjid, dan setiap aktivitas kita adalah ibadah jika dilakukan dengan akhlak yang mulia. Wallahu a’lam.[*]
________________________________________