Petikan Hikmah Ramadan (13)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

MEMASUKI pertengahan Ramadan, kita seringkali terjebak dalam perlombaan angka. Berapa juz yang sudah dibaca? Berapa banyak takjil yang sudah dibagikan? Berapa kali kita hadir di buka puasa bersama? Dan banyak laigi lainnya.

Angka-angka ini memang baik, namun ada satu timbangan yang sering kita lupakan, yakni “Timbangan Hati.”

Ada kalanya, satu butir kurma yang diberikan dengan tangan gemetar karena ketulusan, jauh lebih berat timbangannya di langit daripada donasi jutaan rupiah yang terselip keinginan untuk dipuja.

Ikhlas adalah bumbu rahasia yang mengubah amal sederhana menjadi luar biasa. Tanpanya, gunung amal hanyalah tumpukan debu yang diterbangkan angin.

Cahaya di Tengah Kegelapan

Ikhlas berasal dari Bahasa Arab. Akar katanya kha-la-sha yang berarti murni, jernih atau bersih dari campuran. Amal yang ikhlas adalah amal yang bersih dari kepentingan selain wajah Allah. Ia tidak butuh panggung, tidak haus pujian, dan tidak surut karena cacian.

Allah Swt., berfirman:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Rasulullah Saw., juga mengingatkan kita bahwa Allah tidak melihat pada rupa atau harta, melainkan pada hati. Dalam sebuah hadis yang sangat menggetarkan, beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang murni (ikhlas) untuk-Nya dan dicari dengannya wajah-Nya.” (HR. An-Nasa’i)

Ikhlas adalah mata uang yang berlaku di akhirat. Di dunia, orang mungkin tertipu oleh kemasan amal kita, namun di hadapan Allah, hanya isi yang berbicara.

Rahasia Keberkahan Setitik Tinta

Dikisahkan, seorang ulama besar yang bermimpi melihat seseorang masuk surga bukan karena kitab-kitab besar yang ia tulis, bukan pula karena ceramahnya yang memukau ribuan orang.

Orang tersebut masuk surga karena suatu hari, saat ia sedang menulis, seekor lalat yang kehausan hinggap di tintanya.

Ulama itu berhenti menulis sejenak, ia tidak mengusir lalat itu, melainkan membiarkannya meminum tinta sampai puas agar lalat itu tetap hidup. Ia melakukannya tanpa ada yang melihat, murni karena rasa kasih sayang yang tulus karena Allah.

Amal itu tampak kecil, bahkan mungkin remeh di mata manusia. Namun karena dilakukan dengan penuh keikhlasan, Allah mengangkat derajatnya.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa jangan pernah meremehkan kebaikan sekecil apa pun, karena kita tidak pernah tahu keikhlasan di balik amal mana yang akan menyelamatkan kita kelak.

Menjaga Niat di Garis Tengah

Hari-hari jelang pertengahan Ramadan adalah waktu yang tepat untuk melakukan audit hati. Mari berhenti sejenak dari hiruk-pikuk mengejar target khatam atau popularitas sosial.

Tanyakan pada diri sendiri: “Jika semua orang tidak tahu aku berpuasa, apakah aku masih akan tetap melakukannya dengan semangat yang sama?”

Ikhlas memang sulit, bahkan para wali pun sering mengeluhkan betapa beratnya menjaga niat. Namun, ikhlas adalah satu-satunya cara agar lelah kita tidak menjadi sia-sia.

Mari kita perkecil ego, agar amal kita yang kecil menjadi besar di hadapan Sang Maha Rahman. Sebab, pada akhirnya, bukan seberapa besar yang kita beri, tapi seberapa besar hati yang kita sertakan dalam pemberian itu. Wallahu a’lam.[*]