
Petikan Hikmah Ramadhan (14)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
DALAM suatu kesempatan, saya pernah berbeda pendapat dengan seorang dosen senior saya. Saya mengatakan bahwa bulan Ramadan itu sejatinya terjadi penghematan konsumsi minimal 30 %. Bahkan bisa sampai 50 %.
Dosen senior itu mengatakan, “itu tidak mungkin. Jangankan penghematan, di Bulan Ramadan ini, justeru belanja umat Islam meningkat.”
Ini sungguh-sungguh sebuah paradoks yang terjadi setiap bulan suci Ramadan tiba. Perut diperintahkan untuk kosong, namun keranjang belanja justru semakin penuh.
Ramadan yang seharusnya menjadi momentum pembersihan jiwa dan raga, seringkali terjebak dalam pusaran selebrasi yang bersifat kebendaan.
Di titik inilah, puasa sejatinya adalah sebuah deklarasi kemerdekaan, sebuah upaya merebut kembali kedaulatan diri dari cengkeraman budaya konsumerisme.
Hegemoni “Lapar Mata”
Konsumerisme bekerja dengan cara menciptakan rasa haus yang tak pernah tuntas.
Ia mendikte kita bahwa kebahagiaan berbuka puasa diukur dari kemewahan hidangan, dan kemenangan Idul Fitri ditentukan oleh barunya pakaian.
Tanpa sadar, kita menjadi objek dari algoritma iklan yang tahu persis kapan pertahanan diri kita melemah di jam-jam kritis menjelang magrib.
Puasa datang sebagai antitesis. Perintah imsak (menahan) bukan hanya soal makanan, melainkan latihan untuk berkata “tidak” pada keinginan yang tidak kita butuhkan.
Saat kita berhasil menunda keinginan untuk membeli sesuatu yang sekadar tren, di situlah kedaulatan diri kita tegak kembali.
Dalam terminologi tasawuf, puasa membantu kita mengenali perbedaan antara hajat (kebutuhan) dan syahwat (keinginan).
Konsumerisme sering mengaburkan batasan ini. Kita membeli bukan karena butuh fungsinya, tapi karena ingin gengsinya.
Rasulullah Saw., memberikan keteladanan yang sangat minimalis. Hidup beliau adalah bukti bahwa kualitas hidup tidak berbanding lurus dengan kuantitas kepemilikan.
Dengan puasa, kita diajak untuk kembali ke esensi, bahwa segelas air dan beberapa butir kurma sudah cukup untuk membatalkan dahaga.
Kesederhanaan ini bukan berarti kemiskinan, melainkan kekayaan jiwa yang tidak bisa didikte oleh tren pasar.
Puasa sebagai Gerakan Perlawanan
Menjadi berdaulat berarti kita yang memegang kendali atas dompet dan keinginan kita, bukan sebaliknya.
Di tengah gempuran diskon “Ramadan Sale”, kedaulatan diri kita diuji, apakah kita makan untuk hidup, atau kita hidup untuk terjebak dalam siklus belanja yang melelahkan.
Kemenangan melawan konsumerisme adalah kemenangan sosial. Uang yang tidak habis untuk konsumsi berlebih bisa dialihkan menjadi energi filantropi.
Bayangkan, jika surplus dari penghematan kita selama Ramadan, dialirkan untuk mereka yang benar-benar kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, itu berarti puasa kita telah berdampak.
Merdeka di Hari Fitri
Jika kita mampu melewati Ramadhan dengan kendali penuh atas nafsu konsumtif, maka Idul Fitri nanti kita benar-benar menjadi pemenang.
Kita merayakan kemenangan bukan karena berhasil membeli segalanya, tapi karena kita telah berhasil membuktikan bahwa diri kita tidak bisa dibeli oleh apa pun.
Mari jadikan sisa hari di bulan suci ini sebagai ajang latihan untuk hidup lebih esensial. Sebab, kedaulatan diri yang sejati adalah ketika hati merasa cukup dengan apa yang ada, sementara tangan terus sibuk memberi kepada sesama. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan