
Petikan Hikmah Ramadan (17)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
HARI ini adalah hari ke-16 Ramadan yang tengah kita jalani. Nanti malam kita masuk malam ke-17 yang lebih dikenal dengan malam Nuzul Qur’an (Malam turunnya Al-Qur’an).
Sebagaimana firman Allah Swt., di dalam Al-Qur’an:
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang bathil)”. (QS. Al-Baqarah : 185)
Di dalam ayat tersebut, Allah Swt., menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi manusia.
Dengan demikian, untuk menjalani hidup dan kehidupan sesuai dengan kehendak Allah maka sejatinya Al-Qur’an senantiasa menjadi penuntun arah dan lentera cahaya penerang sehingga kita tersesat.
Di dalam kehiduapan sehari-hari, ada masa-masa hati terasa sesak tanpa sebab yang jelas. Aktivitas berjalan seperti biasa, pekerjaan terselesaikan, interaksi sosial tetap berlangsung, tetapi di dalam diri ada kegelisahan yang sulit dijelaskan.
Pikiran terasa penuh, jiwa terasa lelah. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh tekanan, banyak orang tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam.
Ramadan hadir membawa pesan yang lembut namun tegas, ada obat bagi jiwa yang gelisah, yakni Al-Qur’an.
Kegelisahan sejatinya bukan hanya persoalan psikologis, tetapi juga spiritual. Manusia diciptakan dengan kebutuhan akan makna dan keterhubungan dengan Sang Pencipta. Ketika hubungan itu melemah, jiwa kehilangan arah.
Allah sendiri menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenteram, ala bi zikrillahi tatmainnul qulub.
Al-Qur’an Sebagai Penyembuh
Dalam ayat lain ditegaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai pelajaran dan penyembuh bagi penyakit yang ada di dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.
Ini bukan sekadar janji simbolik, melainkan penegasan bahwa wahyu memiliki daya terapi bagi batin manusia.
Ramadan adalah bulan yang paling tepat untuk merasakan fungsi penyembuhan itu. Saat tubuh dilatih menahan lapar dan dahaga, sesungguhnya jiwa juga sedang dipersiapkan untuk menerima asupan ruhani.
Tilawah di waktu sahur, lantunan ayat setelah tarawih, dan tadabbur di sela-sela kesibukan harian menjadi ruang sunyi tempat hati kembali berdialog dengan Tuhan. Di sanalah kegelisahan perlahan mencair.
Namun, agar Al-Qur’an benar-benar menjadi obat, ia tidak cukup hanya dibaca, ia perlu diresapi. Banyak orang membaca dengan cepat demi mengejar target khatam, tetapi sedikit yang berhenti untuk merenungkan maknanya.
Padahal, satu ayat yang dipahami dan dihayati bisa lebih menenangkan daripada puluhan halaman yang dilafalkan tanpa kesadaran.
Ketika ayat tentang kesabaran dibaca oleh mereka yang sedang diuji, ketika ayat tentang rezeki direnungkan oleh mereka yang sedang cemas, atau ketika ayat tentang ampunan disadari oleh mereka yang dihimpit rasa bersalah, di situlah Al-Qur’an bekerja sebagai penyembuh.
Dalam konteks sosial hari ini, kegelisahan menjadi fenomena yang meluas. Tekanan ekonomi, persaingan hidup, paparan media sosial, hingga krisis kepercayaan diri membuat banyak orang kehilangan ketenangan.
Ramadan seharusnya menjadi momentum kolektif untuk kembali kepada sumber ketenteraman.
Rumah-rumah yang dihidupkan dengan bacaan Al-Qur’an akan terasa lebih damai. Masjid-masjid yang dipenuhi lantunan wahyu akan menjadi pusat keteduhan.
Bahkan individu yang menyempatkan diri beberapa menit saja setiap hari untuk membaca dan merenung, akan merasakan perubahan suasana batin.
Al-Qur’an juga menyembuhkan dengan cara meluruskan cara pandang. Ia mengajarkan bahwa hidup adalah ujian, bukan beban.
Ia menanamkan keyakinan bahwa setiap kesulitan disertai kemudahan.
Ia mengingatkan bahwa dunia bukan tujuan akhir, sehingga kegagalan di dunia bukan akhir dari segalanya.
Ketika perspektif ini tertanam kuat, kegelisahan kehilangan akarnya.
Maka, di bulan Ramadhan ini, jangan hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan rutin, tetapi jadikan ia sebagai teman dialog yang intim.
Bacalah dengan hati yang terbuka, dengarkan pesannya, dan izinkan ia menyentuh ruang-ruang terdalam dalam diri.
Jika ada kegelisahan, bawalah ia kepada ayat-ayat Allah. Jika ada kecemasan, temukan jawabannya dalam wahyu-Nya.
Ramadan adalah waktu terbaik untuk memulai terapi ruhani itu. Kembalilah kepada Al-Qur’an, karena di sanalah terdapat cahaya, petunjuk, dan ketenteraman. Dan ketika jiwa telah tenang, langkah hidup pun akan lebih mantap.
Semoga dari bulan ini lahir hati-hati yang lebih damai, lebih kuat, dan lebih dekat kepada Allah. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan