Petikan Hikmah Ramadan (29)


Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

JELANG Hari Raya Idul Fitri, suasana berbeda dengan hari-hari lainnya. Tampak hiruk pikuk terjadi di pasar, di mall, dan di pusat-pusat perbelanjaan ramai dikunjungi masyarakat.

Sebuah situasi yang dilematis. Pusat-pusat perbelanjaan memberikan Diskon besar-besaran, promosi belanja, dan berbagai tawaran produk turut mendorong orang membeli bukan karena kebutuhan, tetapi karena dorongan sesaat.

Tanpa disadari, semangat spiritual yang telah dibangun selama Ramadan, tergeser oleh euforia konsumsi yang berlebihan.

Di satu sisi, hati dipenuhi harapan agar seluruh ibadah selama sebulan diterima oleh Allah. Di sisi lain, masyarakat sibuk dengan persiapan datangnya Hari Raya Idul Fitri.

Fenomena ini sebenarnya tidak sepenuhnya salah. Bergembira menyambut hari raya adalah bagian dari syiar Islam. Namun, sering kegembiraan itu berubah menjadi perlombaan konsumsi yang berlebihan.

Tanpa disadari, semangat Idul Fitri yang seharusnya sederhana justru berubah menjadi pertunjukan budaya konsumerisme yang melelahkan.

Padahal, seharusnya esensi Idul Fitri tidak terletak pada kemewahan pakaian atau banyaknya hidangan yang tersaji di meja.

Makna terdalam dari Idul Fitri adalah kembalinya manusia kepada fitrah, kesucian hati setelah sebulan ditempa oleh ibadah Ramadan.

Idul Fitri Minimalis Hati Tetap Gembira

Ramadan telah mengajarkan kita kesederhanaan. Selama sebulan kita belajar menahan diri, mengendalikan keinginan, serta merasakan kehidupan yang lebih bersahaja.

Puasa mengingatkan bahwa manusia tidak selalu membutuhkan banyak hal untuk hidup dengan bahagia. Justru dalam kesederhanaan itulah, hati menemukan ketenangan.

Karena itu, mempersiapkan Idul Fitri secara minimalis sejatinya adalah cara untuk menjaga nilai-nilai Ramadan tetap hidup.

Minimalis bukan berarti menolak kegembiraan hari raya, akan tetapi menempatkan kegembiraan itu pada proporsi yang wajar.

Kita tetap boleh mengenakan pakaian yang baik, menyajikan hidangan untuk keluarga, dan menyambut tamu dengan penuh keramahan, namun tidak berlebihan.

Idul Fitri seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial. Alih-alih menghabiskan banyak energi pada konsumsi yang berlebihan, kita dapat mengarahkan sebagian rezeki untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Zakat fitrah yang kita tunaikan menjelang hari raya adalah pengingat bahwa kebahagiaan Idul Fitri harus dirasakan oleh semua orang, terutama mereka yang kurang beruntung.

Selain itu, Idul Fitri juga bukan tentang seberapa meriah kita merayakannya, tetapi tentang seberapa bersih hati kita ketika menyambutnya.

Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas nafsu berbelanja, melainkan kemenangan atas hawa nafsu yang telah kita latih selama Ramadan.

Maka, ketika Ramadan hampir berpamitan dan Idul Fitri segera tiba, sejatinya kita menyambutnya dengan kesederhanaan yang penuh makna.

Idul Fitri yang minimalis justru dapat menghadirkan kebahagiaan yang lebih tulus, kebahagiaan yang lahir dari hati yang bersih, keluarga yang hangat, serta kepedulian kepada sesama.

Dengan cara itulah, Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi benar-benar menjadi simbol kemenangan spiritual setelah perjalanan panjang di bulan Ramadan.

Karena itu, menyambut Idul Fitri dengan kesederhanaan bukan hanya pilihan gaya hidup, tetapi juga bentuk kesadaran spiritual untuk menjaga kemenangan yang telah kita perjuangkan selama Ramadhan. Wallahu a’lam. [*]