
Petikan Hikmah Ramadan (31)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
RAMADAN kini berlabuh di dermaga tujuan akhir. Namun di ujung perjalanan suci ini, umat Islam kembali dihadapkan pada satu realitas yang berulang, perbedaan dalam penetapan hari raya Idul Fitri.
Sebagian telah bersiap menyambut kemenangan lebih awal, sementara yang lain masih menyempurnakan puasanya sehari kemudian.
Perbedaan ini bukan hal baru, tetapi selalu menghadirkan ruang refleksi yang mendalam bagi kita semua.
Dalam khazanah Islam, perbedaan dalam menentukan awal bulan hijriyah sejatinya berakar dari metode yang digunakan: _rukyat_ (pengamatan hilal) dan _hisab_ (perhitungan astronomi).
Keduanya memiliki landasan ilmiah sekaligus legitimasi syar’i.
Di sinilah kita belajar bahwa Islam tidak dibangun di atas satu cara pandang tunggal dalam ranah ijtihadiyah, melainkan memberi ruang bagi keragaman pendekatan selama berangkat dari niat mencari kebenaran.
Sayangnya, perbedaan yang seharusnya menjadi rahmat ini terkadang berubah menjadi sumber perdebatan yang menguras energi.
Media sosial dipenuhi dengan klaim kebenaran masing-masing, bahkan tak jarang disertai nada saling menyalahkan.
Padahal, Ramadan mengajarkan kita untuk menahan diri, bukan hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari sikap merasa paling benar dan merendahkan yang lain.
Idul Fitri sejatinya adalah momentum kembali kepada fitrah, kesucian hati, kejernihan pikiran, dan kelapangan jiwa.
Maka, bagaimana mungkin kita merayakan hari kemenangan dengan hati yang masih sempit terhadap perbedaan?
Bukankah kemenangan sejati justru terletak pada kemampuan kita menjaga ukhuwah di tengah keragaman?
Ujian Bagi Kedewasaan Beragama
Di sinilah kedewasaan beragama diuji. Kita diajak untuk memahami bahwa perbedaan bukan ancaman, melainkan keniscayaan.
Selama perbedaan itu berada dalam koridor ijtihad yang dapat dipertanggungjawabkan, maka sikap terbaik adalah saling menghormati.
Yang merayakan lebih awal tidak perlu merendahkan yang belakangan, dan yang menyempurnakan puasa tidak perlu menyalahkan yang telah berhari raya.
Lebih dari itu, perbedaan ini seharusnya memperkaya cara pandang kita. Ia mengajarkan bahwa kebenaran dalam perkara cabang bisa memiliki lebih dari satu wajah, dan setiap wajah memiliki argumentasinya sendiri.
Tugas kita bukan menghapus perbedaan, tetapi mengelolanya dengan akhlak.
Mari kita jadikan momentum ini sebagai latihan spiritual untuk memperluas hati.
Jika selama Ramadan kita belajar menahan lapar, maka di akhir Ramadan kita belajar menahan ego. Jika selama Ramadan kita melatih kesabaran, maka di hari raya kita menguji ketulusan dalam menerima perbedaan.
Pada akhirnya, yang diuji bukanlah siapa yang paling cepat merayakan Idul Fitri atau paling akhir menutup Ramadan, melainkan siapa yang paling lapang hatinya dalam menyikapi perbedaan.
Jangan sampai kita sibuk memperdebatkan tanggal, tetapi lupa menjaga akhlak.
Sebab kemenangan sejati bukan ditentukan oleh hari apa kita berhari raya, melainkan sejauh mana Ramadan berhasil menumbuhkan kedewasaan, menundukkan ego, dan menguatkan persaudaraan.
Jika hati tetap jernih, ukhuwah tetap utuh, dan lisan tetap santun di tengah perbedaan, maka di situlah hakikat Idul Fitri benar-benar kita raih. _Wallahu a’lam._[*]




Tinggalkan Balasan