Petikan Hikmah Ramadhan (32)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

Refleksi atas Perbedaan Hari Idul Fitri 1447 H/2026 M


HARI ini, sebagian saudara kita telah mengumandangkan takbir kemenangan. Masjid-masjid dipenuhi gema takbir, tahmid, dan tahlil yang berkumandang, yang menandai datangnya hari kemenangan.

Tangan-tangan saling bersalaman, dan senyum merekah merayakan hari kemenangan, hari raya Idul Fitri.

Sementara itu, sebagian yang lain masih melanjutkan ibadah puasa di penghujung Ramadan, menanti esok hari sebagai momen kemenangan yang sama.

Kita berada dalam satu realitas yang unik, merayakan hari besar yang sama, tetapi pada waktu yang berbeda.

Pemandangan ini sejatinya bukan hal baru dalam perjalanan umat Islam di Indonesia.

Perbedaan dalam penetapan awal Syawal kerap terjadi, seiring dengan perbedaan metode dan pendekatan dalam memahami tanda-tanda datangnya bulan baru.

Sebagian masyarakat menggunakan metode hisab (perhitungan) sementara sebagian lainnya menggunakan metode rukyah (pengamatan).

Hasilnya kadang-kadang berbeda yang menyebabkan perbedaan pelaksanaan hari raya.

Namun, di balik perbedaan itu, ada satu hal yang tidak boleh hilang, yakni ikatan persaudaraan yang kokoh sebagai sesama muslim.

Bukan Siapa yang Benar tetapi Siapa yang Mampu Menjaga Hati

Idul Fitri bukan sekadar soal tanggal, tetapi tentang makna kembali kepada fitrah. Fitrah yang bersih dari prasangka, yang lapang menerima perbedaan, dan yang tulus dalam memaafkan.

Maka, ketika sebagian telah merayakan hari ini dan sebagian lainnya menanti esok, sesungguhnya kita sedang diuji.

Allah sedang menguji kita, siapa yang paling mampu menjaga hati. Sebab, perbedaan ini bukan tentang siapa yang benar, tetapi tentang siapa yang paling mampu menjaga hati.

Bayangkan jika perbedaan ini disikapi dengan kebijaksanaan. Yang berhari raya hari ini tetap menghormati yang masih berpuasa. Tidak makan dan minum secara demonstratif di hadapan mereka yang masih menahan diri.

Sebaliknya, yang belum berhari raya pun tidak menyimpan prasangka atau merasa paling benar, tetapi tetap mendoakan dan menghargai saudara-saudaranya yang telah lebih dahulu merayakan kemenangan.

Di sinilah keindahan Islam tampak nyata, berbeda, tetapi tetap bersatu.
Kita juga diingatkan bahwa Ramadan tidak hanya mendidik kita menjadi pribadi yang taat secara ritual, tetapi juga matang secara sosial.

Puasa melatih empati, dan Idul Fitri sejatinya menjadi panggung pembuktian dari empati itu.

Jika setelah sebulan penuh berlatih, kita masih mudah menyalahkan dan merendahkan yang berbeda, maka ada yang belum tuntas dalam proses pembelajaran Ramadan kita.

Mungkin kita tidak bisa menyatukan hari raya dalam satu tanggal, tetapi kita selalu bisa menyatukan hati dalam satu tujuan, mencari ridha Allah dan menjaga ukhuwah.

Karena pada akhirnya, perbedaan ini hanyalah sehari, sementara persaudaraan adalah untuk selamanya.

Jangan biarkan perbedaan satu hari merusak kebersamaan yang telah kita bangun bertahun-tahun.

Lebaran bukan tentang seragamnya waktu, tetapi tentang selarasnya hati.

Jika hari ini kita belum berhari raya, doakan mereka yang telah merayakannya. Jika hari ini kita telah berhari raya, hormati mereka yang masih menyempurnakan puasanya.

Sebab dalam sikap saling menghargai itulah, kita tidak hanya merayakan Idul Fitri, tetapi juga merayakan kematangan iman dan kedewasaan sebagai umat. Wallahu a’lam.[*]