
Petikan Hikmah Ramadan (37)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
TIDAK terasa, sudah hampir sepekan Ramadan berlalu. Bulan penuh berkah dan magfirah itu telah kita lalui dengan penuh kesungguhan. Lapar dan dahaga kita tahan, malam-malam kita hidupkan, Al-Qur’an kita dekatkan dalam keseharian.
Pertnyaan yang muncul, apakah semua itu masih kita lakukan setelah Ramadan pergi atau terhenti seiring dengan kepergian Ramadan?
Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.
Namun demikian, sejatinya Ramadan membuat perilaku hidup kita berubah. Salah satu diantaranya adalah kemampuan untuk selalu berkata-kata yang benar.
Allah Swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”(QS. Al-Ahzab: 70)
Ayat ini menegaskan bahwa ketakwaan tidak hanya berhenti pada ibadah-ibadah ritual, tetapi harus tercermin dalam sikap dan ucapan.
Ramadan sejatinya adalah proses pembentukan takwa, dan takwa itu harus tampak dalam sikap dan perilaku kita; kejujuran, amanah, dan integritas dalam kehidupan nyata.
Rasulullah Saw., pun mengingatkan dengan sangat tegas:
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)
Hadis ini menegaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan diri secara fisik, tetapi transformasi moral.
Jika setelah Ramadan kita masih mudah berdusta, lalai dalam amanah, atau abai terhadap sesama, maka ada yang belum tuntas dalam ibadah kita.
Para ulama besar memberikan perhatian serius pada hal ini. Ibn Taymiyyah pernah menegaskan bahwa esensi ibadah adalah menghadirkan ketaatan dalam seluruh aspek kehidupan.
Ibadah bukan hanya apa yang dilakukan di masjid, tetapi juga bagaimana seseorang bersikap di pasar, di tempat kerja, dan dalam interaksi sosialnya.
Inilah yang membedakan antara ritual yang kosong dengan ibadah yang hidup.
Ada sebuah kisah inspiratif tentang seorang pekerja yang dikenal rajin beribadah di bulan Ramadan.
Ia selalu berada di saf terdepan, lisannya basah dengan zikir, dan tangannya ringan dalam bersedekah.
Namun setelah Ramadan, ia kembali pada kebiasaan lamanya, lalai dalam pekerjaan, bahkan terkadang tidak jujur dalam tugasnya.
Ketika ditegur, ia berkata, “Ramadan sudah selesai.” Maka seorang ulama menasihatinya, “Jika Ramadanmu benar, seharusnya ia tidak pernah benar-benar selesai.”
Kisah ini menjadi pengingat bahwa nilai Ramadan seharusnya tidak terhenti oleh waktu. Ia harus membumi dan hadir dalam cara kita bekerja, berinteraksi, dan mengambil keputusan.
Kejujuran dalam berdagang, tanggung jawab dalam pekerjaan, kesabaran dalam menghadapi keluarga, merupakan wujud nyata dari ibadah yang telah kita latih selama Ramadan.
Hari ini, tantangan kita bukan lagi menahan lapar dan dahaga, tetapi menjaga hati agar tetap jujur, menjaga lisan agar tetap santun, dan menjaga perilaku agar tetap selaras dengan nilai-nilai Islam.
Inilah aktualisasi dari ibadah yang kita latih di bulan Ramadan, yang benar-benar hidup dalam keseharian kita.
Maka, jangan biarkan Ramadan hanya menjadi kenangan spiritual yang indah, tetapi tidak meninggalkan jejak dalam kehidupan nyata.
Jadikan ia sebagai titik balik, dari sekadar ritual menuju aktualisasi nilai.
Keberhasilan Ramadan tidak diukur dari seberapa khusyuk kita beribadah di dalamnya, tetapi dari seberapa kuat kita menjaga nilainya setelah ia berlalu.
Dan, ketika ibadah tidak lagi sekadar dilakukan, tetapi benar-benar dihidupkan, maka itu berarti kita sungguh-sungguh telah membumikan nilai-nilai Ramadhan. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan