Petikan Hikmah Ramadan (38)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)

SETELAH Ramadan berlalu, setidaknya ada yang berubah. Perubahan itu bukan pada dunia yang kita pijak, tetapi pada hati yang kita bawa.

Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan madrasah yang melatih kepekaan jiwa, menahan diri, merasakan empati, dan mendekat kepada Allah.

Kini, kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing, apakah hati kita benar-benar telah berubah? Apakah hati kita menjadi lebih tenteram setelah kita begitu dekat dengan Allah Swt.

Sebagaimana firman Allah Swt.:
“ _(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah._ ” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ramadan melatih hati untuk menemukan ketenangan dalam zikir dan ibadah. Ia mendidik kita agar tidak lagi bergantung pada dunia, tetapi pada kedekatan dengan Allah.

Dalam suasana yang penuh berkah, hati menjadi lebih lembut, lebih mudah tersentuh, dan lebih cepat kembali ketika tergelincir.

Namun hati yang terlatih bukanlah hati yang hanya hidup di bulan Ramadan, melainkan yang tetap sadar dan terjaga setelahnya.

Rasulullah Saw., bersabda:
“ _Dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati._ ” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama, seperti Ibn Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa hati ibarat raja, sementara anggota tubuh adalah tentaranya.

Jika hati telah terlatih dengan ketaatan, maka seluruh perilaku akan mengikuti arah yang benar.

Inilah hasil sejati dari madrasah Ramadan, bukan sekadar meningkatnya amal, tetapi hidupnya hati.

Dikisahkan seorang salihin yang setelah Ramadan tetap menangis dalam doanya. Ketika ditanya, ia menjawab, “Aku khawatir jika hatiku hanya hidup di bulan Ramadan, dan mati di bulan-bulan lainnya.”

Kekhawatiran ini bukan kelemahan, tetapi justru tanda kedalaman iman. Ia tidak ingin kehilangan kedekatan yang telah ia rasakan.

Selalu Mencari Jalan Pulang Kepada Allah

Hari ini, mungkin kita tidak lagi merasakan suasana spiritual yang sama.

Namun jika hati kita masih mudah tersentuh oleh ayat-ayat Allah, masih gelisah saat berbuat dosa, dan masih rindu pada ibadah, itulah tanda bahwa latihan itu tidak sia-sia.

Hati yang terlatih akan selalu mencari jalan pulang kepada Allah, meski terkadang ia tersandung.

Maka, rawatlah hati itu. Jangan biarkan ia kembali keras karena lalai, atau kering karena jauh dari zikir. Isi ia dengan kebaikan, jaga dengan keikhlasan, dan kuatkan dengan istiqamah.

Semoga hati kita yang telah ditempa di madrasah Ramadhan tetap hidup, tetap peka, dan terus mencari jalan menuju Allah.

Karena sehatinya, dari hati yang terlatih itulah, perjalanan menuju istiqamah dimulai. _Wallahu a’lam._ [*]