
Petikan Hikmah Ramadan (41)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
RAMADAN baru saja berlalu. Bulan penuh berkah itu meninggalkan jejak-jejak spiritual yang mendalam di sanubari. Salah satu warisan terindah yang ditinggalkannya adalah kedekatan kita dengan Al-Qur’an.
Selama sebulan penuh, lisan kita begitu akrab melafalkan ayat-ayat suci, telinga kita dimanjakan oleh lantunan murattal, dan hati kita seringkali tersentuh oleh maknanya yang dalam.
Namun, sebuah pertanyaan besar kini membentang di hadapan kita, apakah kedekatan kepada petunjuk hidup itu tetap terjaga, atau perlahan memudar seiring kembalinya kita ke rutinitas duniawi yang padat.
Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” (QS. Al-Isra’: 9)
Ayat ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukanlah sekadar bacaan ritual atau aktivitas musiman yang hanya ramai di bulan suci. Ia adalah cetak biru kehidupan (way of life) yang bersifat kekal.
Sebagai cahaya yang menuntun langkah dan penenang hati. Al-Qur’an seharusnya menjadi kompas utama dalam setiap pengambilan keputusan hidup kita, dalam berbagai aspek kehidupan.
Komitmen, Bukan Sekadar Momentum
Rasulullah Saw. bersabda: “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya.” (HR. Muslim).
Janji syafaat ini bukan diberikan kepada mereka yang hanya membaca secara sporadis, melainkan bagi mereka yang menjadikannya sahabat karib.
Ulama besar seperti Imam an-Nawawi memberikan teladan nyata. Beliau dikenal sangat dekat dengan Al-Qur’an sepanjang hidupnya.
Bagi Sang Imam, interaksi dengan firman Allah adalah kebutuhan pokok, setara dengan kebutuhan akan udara dan air.
Beliau menunjukkan bahwa hubungan dengan Al-Qur’an adalah sebuah komitmen panjang, bukan sekadar pelampiasan spiritual sesaat karena terbawa suasana momentum tertentu.
Ada sebuah kisah inspiratif tentang seorang pemuda yang tetap konsisten menjaga tilawahnya meski hanya beberapa ayat setiap hari.
Saat ditanya alasannya, ia menjawab dengan sederhana namun bermakna dalam, “Aku tidak ingin kehilangan tali hubungan yang telah susah payah aku bangun dengan Al-Qur’an di bulan Ramadhan.”
Melalui kebiasaan kecil yang berkelanjutan tersebut, ia merasakan hatinya tetap hidup, tenang, dan terjaga dari hiruk-pikuk kegelisahan dunia.
Dalam merawat kedekatan ini, kita tidak selalu dituntut untuk mematok target besar yang justru seringkali membuat kita cepat menyerah.
Prinsip utamanya adalah kesinambungan (istiqamah). Membaca satu halaman secara konsisten setiap hari jauh lebih dicintai Allah daripada membaca satu juz namun hanya dilakukan sesekali saat suasana hati sedang baik.
Menghidupkan Al-Qur’an dalam Perilaku
Sejatinya, Al-Qur’an bukan hanya untuk dikhatamkan secara tekstual, melainkan untuk dihidupkan dalam sikap dan perilaku.
Keberhasilan interaksi kita dengan Al-Qur’an pasca-Ramadan terlihat dari sejauh mana akhlak kita mencerminkan nilai-nilai Al-Qur’an.
Dengan merawat interaksi harian kita —meski dalam porsi yang kecil— kita sedang memastikan bahwa cahaya Al-Qur’an tetap menyala di dalam dada.
Dari sanalah, hati kita akan terus terjaga, membimbing kita melintasi liku-liku kehidupan dengan ketenangan yang bersumber langsung dari Sang Pencipta. Wallahu a’lam. [*]




Tinggalkan Balasan