
Petikan Hikmah Ramadan (45)

Oleh: Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
RASA lelah, putus asa dan kehilangan arah sering kali mendera kita, meskipun kita telah bekerja keras sepanjang hari. Energi terkuras, waktu habis, namun hati terasa kosong.
Boleh jadi masalahnya bukan pada seberapa keras kita bekerja dan seberapa cepat kita melangkah, melainkan pada ke mana arah langkah diarahkan sejak awal.
Di saat seperti inilah, kita perlu memeriksa kembali niat kita, apakah sudah betul-betul karena Allah atau karena hal lain yang bersifat material.
Dalam setiap amal, niat adalah kompasnya. Tanpa niat yang benar, perjalanan hidup hanya menjadi rangkaian aktivitas tanpa makna, seperti kapal yang berlayar di tengah samudra luas tanpa tujuan yang jelas.
Di bulan Ramadan yang baru saja berlalu ini, kita diajak menepi sejenak, merenung, dan menata ulang niat, agar setiap langkah tetap berada di jalur yang diridai Allah Swt.
Niat adalah ruh dari setiap perbuatan. Rasulullah Saw., bersabda dalam sebuah hadis yang sangat popular,
“Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Mengubah Ativitas Menjadi Ibadah
Hadis ini bukan sekadar pengantar dalam kitab-kitab hadis, melainkan fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim.
Niat yang lurus dan ikhlas mampu mengubah aktivitas yang tampak biasa —seperti bekerja, belajar, bahkan beristirahat— menjadi ibadah yang bernilai di sisi Allah.
Sebaliknya, amal yang tampak besar sekalipun akan kehilangan nilainya jika dilandasi riya’ atau keinginan untuk dipuji manusia.
Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt., menegaskan; “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama…” (QS. Al-Bayyinah: 5).
Ayat ini menegaskan bahwa inti dari segala ibadah adalah kemurnian niat. Namun, menjaga niat bukan perkara mudah.
Ia berbolak-balik, berubah-ubah, sebagaimana hati manusia yang disebut oleh Rasulullah Saw., lebih cepat berbolak-balik daripada air yang mendidih.
Oleh karena itu, menata niat bukanlah pekerjaan sekali selesai, melainkan proses seumur hidup yang membutuhkan kesadaran dan muhasabah terus-menerus.
Dikisahkan, ada seorang pemuda yang setiap hari berangkat ke masjid untuk salat berjamaah. Dalam perjalanannya, ia terperosok ke dalam lubang hingga pakaiannya kotor.
Ia pulang, berganti pakaian, lalu kembali berangkat. Namun, ia kembali jatuh di lubang yang sama. Untuk ketiga kalinya, ia tetap bangkit, pulang, dan berangkat lagi dengan tekad yang sama.
Konon, iblis yang mencoba mencelakainya merasa heran dan akhirnya menyerah, karena melihat betapa kokohnya niat pemuda tersebut.
Niatnya tidak goyah oleh rintangan fisik. Justru, setiap ujian semakin menguatkan arah hidupnya menuju ketaatan.
Ramadan mengajarkan kita betapa pentingnya niat. Puasa yang kita jalani sejak terbit fajar hingga terbenam matahari hanya sah jika diawali dengan niat. Tanpa niat, lapar dan dahaga itu tidak bernilai ibadah.
Demikian pula dalam kehidupan, niat yang kita tanam sejak awal hari akan menentukan kualitas perjalanan kita hingga akhir.
Maka, mari kita biasakan bertanya kepada diri sendiri, “Untuk siapa aku melakukan ini?”
Jika jawabannya adalah untuk Allah, maka lelah kita akan bernilai lillah, dan setiap langkah akan menjadi bagian dari perjalanan pulang menuju rahmat dan ridha-Nya. Wallahu a’lam. [*]




Tinggalkan Balasan