
Petikan Hikmah Ramadan (22)

Oleh Hadi Daeng Mapuna
(Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar)
DI DALAM bulan Ramadan, ada satu malam yang nilainya melampaui hitungan usia manusia. Malam itu bukan sekadar momen spiritual, tetapi anugerah agung yang Allah hadiahkan kepada umat Nabi Muhammad Saw, Lailatul Qadr.
Di penghujung Ramadan, hati orang-orang beriman bergetar oleh harapan, semoga termasuk yang dipertemukan dengannya.
Allah mengabadikan kemuliaan malam ini dalam satu surah khusus, yaitu Surah Al-Qadr.
Di sana ditegaskan bahwa Lailatul Qadr lebih baik daripada seribu bulan. Seribu bulan setara dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun—usia yang bahkan tidak selalu dicapai oleh setiap manusia.
Ini berarti satu malam yang dihidupkan dengan iman dan keikhlasan bernilai lebih dari satu kehidupan panjang tanpa makna.
Di dalam Al-Qur’an, Allah Swt., berfirman:
Lailatul-qadri khairum min alfi syahr. (“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.”) (QS. Al-Qadr : 3)
Para ulama menjelaskan bahwa pada malam itu ditetapkan berbagai urusan kehidupan. Para malaikat turun dengan izin Allah, dan suasana malam dipenuhi kesejahteraan hingga terbit fajar.
Rasulullah Saw., menganjurkan umatnya untuk mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya pada malam-malam ganjil.
Anjuran ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadr bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk dicari dengan penuh kesungguhan.
Mencari Lailatul Qadr sejatinya adalah perjalanan spiritual. Ia bukan hanya tentang menanti tanda-tanda langit, tetapi tentang mempersiapkan hati.
Orang yang berharap bertemu malam kemuliaan itu harus lebih dahulu membersihkan diri dari kesombongan, kedengkian, dan kelalaian. Sebab, kemuliaan tidak akan menetap pada hati yang dipenuhi kekeruhan.
Dalam konteks kehidupan modern, pencarian Lailatul Qadr memiliki makna yang sangat relevan.
Dunia hari ini mengajarkan manusia untuk mengejar kuantitas. Memperbanyak harta, banyak pengikut, dan banyak capaian.
Namun, Lailatul Qadr mengajarkan nilai kualitas. Satu malam yang berkualitas lebih berharga daripada puluhan tahun yang kosong dari kedekatan kepada Allah.
Ini adalah koreksi terhadap cara pandang kita tentang makna keberhasilan.
Lailatul Qadr dan Optimisme Pengampunan
Malam Lailatul Qadr juga mengajarkan optimisme. Betapapun masa lalu seseorang dipenuhi kekhilafan, pintu ampunan terbuka lebar.
Rasulullah Saw., bersabda bahwa siapa yang menghidupkan Lailatul Qadr dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.
Betapa luas rahmat Allah, memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk memulai lembaran baru hanya dalam waktu satu malam.
Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadan tidak boleh berlalu begitu saja. I’tikaf, qiyamul lail, tilawah Al-Qur’an, dzikir, dan doa menjadi sarana untuk mengetuk pintu langit.
Di antara doa yang diajarkan Rasulullah Saw., untuk dibaca pada malam tersebut adalah permohonan ampunan, karena inti dari Lailatul Qadr adalah rekonsiliasi antara hamba dan Tuhannya.
Pencarian ini bukan hanya ritual personal. Dampaknya harus terasa dalam kehidupan sosial.
Seseorang yang benar-benar tersentuh oleh Lailatul Qadr akan kembali ke masyarakat dengan jiwa yang lebih bersih, komitmen yang lebih kuat terhadap kejujuran, dan semangat yang lebih besar untuk berbuat kebaikan.
Malam itu bukan sekadar pengalaman spiritual, tetapi titik balik perubahan.
Kini, kita berada di ambang malam-malam yang dimuliakan itu.
Tidak ada yang tahu apakah kesempatan ini akan terulang tahun depan atau tidak. Maka, jangan tunda kesungguhan. Ringankan langkah menuju masjid, panjangkan sujud, basahi lisan dengan doa, dan hadirkan hati sepenuhnya kepada Allah.
Siapa tahu, di antara keheningan malam dan air mata yang jatuh, Allah mempertemukan kita dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan itu, malam yang mengubah arah hidup untuk selamanya. Wallahu a’lam.[*]




Tinggalkan Balasan